Matanya menyapu langit-langit plafon kamar, butiran bening tak henti-hentinya keluar dari kelopak mata yang sudah mengkerut. Sesekali bibirnya bergetar tatkala asma Allah keluar dari mulutnya. Tangannya tak kuat lagi bisa terangkat untuk sekedar menengadah dan memohon agar diringankanya segala penderitaan yang dihadapinya.
Hampir seminggu sosok tua renta itu terbaring di kamarnya, tak ada kipas angin apalagi pendingin udara, kamarnya pun hanya dibatasi bilik-bilik yang terbuat dari bambu. Tak satu pun anak dan cucu kesayangannya hadir menjenguk, entah sibuk atau memang tak peduli dengan keadaannya.